Wednesday, January 28

Sinar Matahari: Dibenci atau Dicinta?

KOMPAS.com - Peringatan mengenai bahaya sinar matahari sudah seringkali dikumandangkan banyak pihak. Tentunya peringatan-peringatan semacam ini ditujukan untuk kebaikan kita semua. Berbagai dokumentasi peristiwa yang ada semakin menguatkan akan bahaya sinar ultraviolet pada tubuh dan kulit manusia. Namun, tetap saja, hangatnya mentari kala cuaca sedang dingin atau mendung atau pada pagi hari masih menjadi suatu hal yang menyenangkan. Apakah sinar matahari benar-benar seburuk itu?

Berjarak 93 juta mil jauhnya dari bumi, matahari bersinar dengan terangnya, membantu setiap mahluk hidup di dunia tetap ternutrisi dan berenergi. Sebelum kita benar-benar menutup diri dari hangatnya sinar mentari, mari kita lihat apa saja manfaat yang masih bisa kita nikmati dari mentari melalui sinarnya. Berikut saran dari Rich Maloof penulis MSN, CNN, dan Women's Health.

Sambut mentari pagi
Tentu sudah kita ketahui, bahwa manusia adalah mahluk diurnal (mahluk yang beraktivitas di siang hari), dan bukan nocturnal (mahluk malam hari). Ketika kita bangun pada pagi hari, dan melihat terangnya dunia dari sinar matahari, otak kita merespons dengan perubahan ritmis sirkadia, yakni siklus fisik, mental, dan perilaku. Terangnya matahari secara efektif menekan tombol dalam otak yang membuat tubuh lebih bersemangat bergerak. Ketika hari beranjak menuju malam, tubuh kita pun mulai melemah, dan otak pun secara otomatis mengeluarkan hormon pembantu tidur, melatonin.

Antidepresan alami
Mungkin Anda pernah melihat hasil gambar anak-anak yang berisi orang tersenyum di siang hari, dan menangis di tengah hujan yang mendung dan kelam? Ini merupakan suatu penggambaran terpolos yang bisa mengindikasikan hubungan antara cuaca dan suasana hati kita. Ternyata, kala mentari bersinar dengan cerah, tapi tidak terlalu menyengat, suasana hati kita pun ikut gembira.

Ketika musim dingin di Amerika, sebagian penduduknya mengalami kondisi yang disebut seasonal affective disorder (or SAD). Gejalanya mirip depresi, yang di dalamnya termasuk kelelahan, perubahan nafsu makan, emosi labil, sulit konsentrasi, dan menghindari acara-acara sosial. Pengobatan yang kini banyak dilakukan adalah terapi cahaya. Terapi ini menggunakan sumber cahaya buatan yang efeknya menyerupai efek sinar matahari. Para dokter pun akan merekomendasikan pasien yang mengalami masalah ini dengan berjalan-jalan di siang hari atau setiap kali ada sinar matahari.

Mengatasi jet lag
Perjalanan melintasi batas zona waktu bisa mengaburkan jadwal tubuh yang sudah terbiasa. Ketika ini terjadi, tubuh akan merasa mengantuk pada siang hari waktu setempat, dan merasa bugar pada malam harinya. Tak terlalu sulit untuk mengembalikan kondisi tubuh akibat jet lag, namun mereka yang sudah sering melancong melintasi batas zona waktu bisa saja mengalami masalah kelelahan di siang hari akibat insomnia, masalah pencernaan, dan sulit berkonsentrasi. Sinar matahari bisa jadi hal yang menyebabkan sekaligus menyembuhkan jet lag. Tubuh akan berusaha mengatur diri dengan waktu setempat berdasarkan sinar matahari, dan sedikit “bingung” ketika siklus 24 jam-nya selesai. Untuk mengatasinya, selain dengan bantuan alat-alat untuk tidur, terapi lain yang bisa dilakukan adalah dengan terapi cahaya. Para ahli kesehatan menyarankan agar kita membuka diri kepada sumber cahaya –idealnya matahari- untuk membiasakan tubuh mengetahui kapan harus terjaga.

Vitamin D
Para ahli nutrisi masih belum sepakat dalam menentukan jumlah vitamin D yang dibutuhkan tubuh. Namun semua setuju, bahwa ketika dalam keadaan yang tak terlalu menyengat dan berbahaya, sinar matahari adalah sumber yang penting. Mereka yang tak terekspos sinar matahari berisiko kekurangan vitamin D, yang seringkali dihubungkan dengan kondisi tulang rapuh.

Jadi, meski sinar matahari memiliki efek buruk, namun dalam kondisi yang tidak terlalu terik ataupun masih dalam kondisi yang nyaman bagi kulit dan mata, matahari pun masih memiliki manfaat untuk kita. Waktu-waktu yang aman untuk terkena sinar matahari adalah pada saat ia terbit hingga sekitar pukul 09.00 dan lewat pukul 15.00 hingga senja. Tetapi disarankan untuk tetap mengenakan tabir surya setiap kali kulit akan terpapar sinar matahari.

Sumber: Kompas.Com

Read More..

Thursday, January 15

Minum Air Saat Perut Kosong

Di Jepang sekarang ini sangat popular sekali trend minum air segera setelah Bangun pagi. Apalagi, test ilmiah telah membuktikan keampuhannya. Kami memberikan deskripsi penggunaan air kepada pembaca kami dibawah ini. Terapi air ini telah dibuktikan sukses oleh kumpulan pengobatan Jepang untuk penyakit lama dan serius dan juga penyakit moderen.

Penyakit-penyakit tersebut adalah sebagai berikut:
Sakit kepala, sakit badan, system jantung, arthritis, detak jantung cepat, epilepsi, kelebihan berat badan, asma bronchitis, penyakit ginjal dan urin, muntah-muntah, asam lambung, diare, diabetes, susah buang air besar, semua penyakit mata, rahim, kanker, datang bulan lancar, dan penyakit telinga, hidung dan kerongkongan.

METODE TERAPI

1. Setelah anda Bangun pagi sebelum mengosok gigi, minum 4x gelas air
2. Gosok dan bersihkan mulut tetapi jangan makan ataupun minum apapun selama 45 menit
3. Setelah 45 menit anda boleh makan dan minum seperti biasa
4. Setelah 15 menit sarapan, makan siang dan makan malam, jangan makan ataupun minum apapun selama 2 jam
5. Untuk anda yang tua ataupun sakit dan tidak dapat minum 4 gelas air pada saat mulai bisa digantikan dengan meminum sedikit air terlebih dahulu dan kemudian ditingkatkan secara berkala hingga 4 gelas per hari.
6. Metode diatas adalah terapi untuk mengobati penyakit dari orang yang sakit dan orang lain dapat menikmati hidup yang sehat.

Daftar berikut adalah jumlah hari yang dibutuhkan untuk terapi pengobatan/control/ mengurangi penyakit utama:
1. Tekanan darah tinggi (30 hari)
2. Asam lambung (10 hari)
3. Diabetes (30 hari)
4. Susah buang air besar/konstipasi (10 hari)
5. Kanker (180 hari)
6. Tuberculosis (90 hari)
7. Pasien arthritis disarankan untuk mengikuti terapi diatas ini hanya 3 hari pada minggu pertama dan dari minggu kedua dan seterusnya – setiap hari

Metode pengobatan ini tidak mempunyai efek samping, tetapi pada saat pelaksanaan pengobatan ini anda mungkin akan buang air beberapa kali.
Adalah lebih baik jika kita melanjutkan terapi ini dan menjadikan prosedur ini sebagai rutinitas kerja dalam kehidupan kita. Minum air dan tetap sehat dan aktif.

Sumber: http://www.indowebster.web.id/

Read More..